KASUS kekerasan antara guru dan murid atau bahkan sebaliknya sudah banyak mencoreng citra pendidikan di Indonesia. Gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang disematkan seolah-olah tercemar akibat kejadian-kejadian itu.

Mahasiswi Unindra, Dyah Khaerunisa.
Mahasiswi Unindra, Dyah Khaerunisa.

Meski begitu sebagian orang tetap teguh pendiriannya bahwa guru tetaplah seorang pahlawan. Di samping itu guru merupakan orang yang membimbing dan melatih muridnya dari apa yang dia tahu.

Seorang mahasiswi Unindra, Dyah Khaerunisa (20) mengatakan, guru itu bukan hanya ada di sekolah saja, guru apapun itu tetap pahlawan tanpa tanda jasa. Ia juga menyebutkan, selagi yang diajarkan benar dan bermanfaat untuk kedepannya itulah guru.

“Menurut aku, guru itu seseorang yang mengajari kita ilmu dan semua guru itu pahlawan tanpa tanda jasa”, ujar Dyah, Kamis (25/11) siang.

Menanggapi soal kekerasan, perempuan 20 tahun ini menyebutkan, kekerasan guru dan murid yang terjadi akhir-akhir ini, hanya dilakukan oleh sebagian guru yang merusak citranya saja.

“Ya dilihat dulu apa motif kekerasan itu sendiri, karena apapun itu yang terjadi guru tetap jadi pahlawan”, ungkap Dyah.

Meski demikian peringatan hari guru 25 November ramai dirayakan oleh sekolah-sekolah yang ada di kawasan Cibubur, dengan berbagai bentuk acaranya. [reza]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here