Siapa yang tak kenal kera Bekantan (Nasalis Larvartus) ?
si hewan tampan dari Kalimantan yang namanya sudah dikenal hingga ke mancanegara. Spesies ini hanya bisa ditemui di pulau Kalimantan. Penduduk pulau tersebut biasa menamainya kera Belanda, raseng, kahau, bakara, bengkara, bengkada, paikah, rasong atau batangan. Hidungnya yang panjang (proboscis) menjadi daya tarik hewan tersebut hingga ke luar negeri. Di Brunei contohnya, kera ini dikenal dengan sebutan bangkatan. Sedangkan di Inggris, dikenal dengan nama proboscis monkey. Berbeda dengan orang Belanda, mereka biasa menyebutnya dengan neusaap.

Keunikan bekantan sendiri membuatnya dijadikan sebagai fauna identitas (maskot) Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu, satwa ini juga dijadikan maskot salah satu taman hiburan terkenal di Indonesia. Saat ini, bekanta tersebar hampir diseluruh Pulau Kalimantan termasuk Sabah, Malaysia Timur. Di Kalimantan Selatan kera ini tinggal di sekitar sungai dan rawa di Pulau Laut dan Pulau Kaget. Sedangkan di Kalimantan Barat, bekantan bisa ditemui di Taman Nasional Gunung Palung.

Selain itu, bekantan juga dapat dijumpai di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, serta Taman Nasional Kutai di Kalimantan Timur. Satwa langka ini umumnya hidup di pepohonan dekat sungai, mereka melompat dan bergelantungan dari dahan ke dahan. Kera ini disebut juga hewan arboreal karena banyak menghabiskan waktunya di atas pohon. Bekantan ini mendiami pinggiran hutan dekat sungai, rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan bakau hingga ke daerah pedalaman Kalimantan.

Bekantan betina dan jantan memiliki perbedaan yang jelas dilihat dari ukuran tubuh dan hidungnya. Bekantan jantan hidungnya lebih panjang dibanding betina, berbentuk seperti umbi yang menggantung dan yang betina seperti hidung mancung manusia. Ukuran hidung jantan ini sangat berpengaruh saat musim berkembang biak, karena betina menganggap hidung besar lebih tampan sehingga dijadikan pasangannya.
Bekantan jantan memiliki tubuh lebih besar dibanding betina. Panjang ekor bekantan hampir sama dengan panjang tubuhnya. Jantan memiliki panjang tubuh 66 – 76 cm dengan berat 24 kg. Sedangkan betina panjang tubuhya mencapai 53 – 60 cm dengan berat 7 – 11 kg. Seperti primata lainnya, hampir seluruh bagian tubuh bekantan ditutupi rambut (bulu). Bekantan dewasa memiliki bulu berwarna kemerahan dibagian kepala, leher, punggung, pundak dan paha. Sedangkan pada dada, perut, ekor, lengan dan kakinya memiliki warna abu-abu atau kuning pucat.

Bekantan jantan memiliki rambut di pipi bagian belakang berwarna kemerah-merahan. Sedangkan pada betina berwarna kekuning-kuningan. Bekantan betina hanya melahirkan satu bayi dalam setahun. Masa kehamilannya 166 hari atau selama 5 – 6 bulan. Bayi bekantan yang baru lahir berbulu keperakan dan berubah menjadi abu-abu setelah tiga bulan.

Anak bekantan dianggap dewasa setelah berusia 4-5 tahun. Sebelum menginjak usia tersebut, mereka akan tetap tinggal bersama induknya. Selain itu, satwa langka ini bisa hidup hingga berusia 15 tahun. Bekantan biasa hidup berkelompok, satu kelompok bisa 10-30 ekor. Ada dua jenis kelompok tersebut, yang pertama beranggotakan bekantan betina, anak-anak serta jantan muda yang dipimpin jantan kuat dan dominan. Kelompok ini yang biasa disebut kelompok single male.

Sedangkan kelompok kedua yang hanya beranggotakan jantan-jantan muda dan kelompok ini biasa disebut kelompok multimale. Anggotanya sendiri bisa mencpai 25 ekor, yang dipimpin bekantan jantan yang paling besar dan kuat. Biasanya kelompok besar ini kumpulan dari beberapa kelompok kecil.

Luas daerah jelajahan bekantan tergantung dari banyaknya anggota kelompok. Luas jelajah mereka sekitar 50-250 hektar, bahkan setiap hari sekelompok bekantan dapat menjelajah lebih dari 1,5 km. Bekantan jantan akan mengeluarkan suara sengau seolah-olah keluar dari hidungnya tiap kali akan mulai penjelajahan. Ia mengeluarkan suara itu untuk menujukan kekuatan dan berinteraksi dengan kelompok atau hewan lain. Selain itu, mereka akan mengeluarkan suara jeritan ketika menjelang tidur.

Bekantan merupakan hewan diurnal karena aktif di siang hari. Paginya mereka berpisah untuk mencari makan dan ketika siang hari yang terik, mereka beristirahat ditempat yang teduh. Di sore harinya mereka mulai aktif kembali ke pinggir sungai untuk mencari makan dan memilih tempat untuk tidur. Saat beristirahat mereka berkumpul kembali dengan kelompoknya. Kera ini juga dikenal sebagai perenang yang andal. Pada telapak tangan dan kakinya terdapat selaput kulit seperti katak. Biasanya mereka berenang berkompok untuk mencari makan ketempat lain dengan melintasi sungai hingga laut dari pulau ke pulau.

Hewan langka ini termasuk kera pemakan daun dan memiliki perut buncit. Hal itu mungkin akibat memakan dedaunan yang menghasilkan gas pada waktu dicerna. Gigi belakang yang tajam memudahkannya untuk mengunyah dedaunan. Kera ini tak hanya memakan daun, bekantan juga kadang memakan buah dan bunga. Mereka menyukai daun dan buah rambai, beringin, pedada, ketiau, lenggadai, piai dan banyak lagi. Selain itu, saat air sungai surut mereka turun untuk mencari serangga tanah.

Kera Belanda ini sering berkeliaran di desa-desa terpencil di Kalimantan Selatan. Warga desa mengusir bahkan membunuh mereka karena dianggap hama tanaman.
Padahal mereka turun ke desa, karena hutan tempatnya mencari makan digunduli manusia sehingga turun ke pemukiman penduduk. Bencana alam kebakaran hutan dan predator seperti buaya dan ikan pemakan daging juga menjadi penyebab berkurangnya populasi bekantan.

Bekantan telah dilindungi populasinya sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Pemerintah Indonesia pun sudah melakukan beberapa upaya untuk melindungi satwa ini. Kelestarian bekantan mendapat perhatian dari International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Sejak tahun 2000, bekantan ada di redlist IUCN dengan kategori terancam punah. Selain itu, bekantan juga masuk dalam Appendix I Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Flora and Fauna (CITES). Hal ini berarti kera Belanda tidak boleh dipedagangkan.

Jika pelestarian tidak dilakukan secara serius, satwa ini diperkirakan punah dalam 14 tahun ke depan. karena tahun 2008 jumlah bekantan diperkirakan sekitar 25000 ekor yang merupakan penurun drastis dari tahun 1987, yang saat itu jumlah bekantan di alam liar mencapai 260.000 ekor. /*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here