Workshop Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Para Dosen UMB

0
269

UNIVERSITAS Mercubuana (UMB) Jatisampurna, Kranggan, Bekasi, mengadakan Workshop Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (PPM) di Bogor, Jawa Barat, sejak 4 hingga 5 Maret 2019 dalam upaya meningkatkan kompetensi para dosennya.

Acara resmi dibuka Direktur Operasional UMB Jatisampurna Prof Masyhudzulhak Djamil. Workshop menghadirkan narasumber antara lain Ketua Pusat Penelitian UMB Meruya Dr Tin Budi Utami yang membawakan materi tentang penelitian; dan Kepala Pusat Pengabdian pada Masyarakat (PPM) UMB Meruya Dr Inge I Hutagalung yang membahas Workshop PPM. Sementara sesi diskusi dan tanya jawab dipandu Prof Masyhudzulhak Djamil dan Dr Afriapollo Syafaruddin dari UMB Jatisampurna.
Peserta ini dihadiri para dosen, sekretaris program studi (Sekprodi), Kabiro Administrasi Umum, Kabag Humas, dan jajaran staf UMB Jatisampurna.

Prof Masyhudzulhak Djamil mengatakan, dilaksanakannya Workshop PPM ini berdasarkan  Program Tridarma Lembaga Pendidikan UMB. Pertama, menyelenggarakan  pendidikan dan pengajaran. Kedua, melakukan penelitian. Ketiga, melaksanakan program minat dan bakat, termasuk kegiatan pengabdian pada masyarakat (PPM).

“Yang pokok dalam menghadapi perubahan pesat di era digital dan milenial saat ini, para dosen, terutama dosen muda, harus cepat mengantisipasi perubahan-perubahan tersebut. Ilmu dan konsep-konsep baru yang muncul harus dielaborasi agar dijadikan program pendidikan yang baik dan berkualitas. Kegiatan tersebut tentunya disesuaikan dengan nilai-nilai budaya bangsa kita, serta tingkat kemajuan IT,” ujar Masyhudzulhak Djamil.

Ia juga menekankan setiap dosen harus mampu melakukan penelitian untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuannya.
Ditambahkan bahwa aktivitas pendidikan dan pengajaran saat ini sudah berjalan dengan baik, namun penelitian dan pengabdian pada masyarakat masih kurang. Karenanya UMB Jatisampurna ingin meningkatkan kegiatan tesebut.

“Sebetulnya UMB sudah sering melakukan penelitian. Tapi, saat ini ingin kita tingkatkan lagi, karena karena institusi kelembagaan UMB Jatisampurna masuk dalam klasifikasi A. Program-program studinya pun sebanyak 60 persen sudah berstandar A. Sehingga UMB Jatisampurna masuk dalam kategori cluster 16 universitas besar di Indonesia.
Kita juga ingin meningkatkan kompetensi dalam riset yang menjadi program pengabdian pada masyarakat, karena selama ini universitas manapun masih tertinggal di universitas mana pun,” tambah M Djamil.

M Djamil juga menambahkan, agar ilmu itu tidak menjadi ‘Menara Gading”, maka harus dibumikan dan diimplementasikan. Salah satu cara yaitu dosen bersama mahasiswa melakukan pengabdian pada masyarakat untuk meningkatkan pembelajaran atau pengabdian pada masyarakat itu sendiri.

Sementara itu, Ketua Pusat Penelitian UMB Meruya Dr Tin Budi Utami mengatakan, setiap kegiatan penelitian yang dilakukan dosen UMB sebelumnya dilakukan sosialisasi. Tujuannya, agar para peserta mengetahui program, skema, pembiayaan, sistem pelaporan, sampai proses penilaian. Karena, penelitian itu harus disubmit ke dalam sistem informasi riset atau disebut Siris UMB.

Tin Budi Utami menjelaskan, kegiatan sosialisasi penelitian ini rutin dilakukan UMB Pusat di Meruya, Jakarta Barat. Untuk tahap awal, pihaknya membuat planning terlebih dulu, kemudian disosialisasikan,  setelah itu diimplementasikan.

“Targetnya, setiap dosen wajib melakukan penelitian atau riset. Kegiatan ini disupport oleh yayasan kita, tentunya disesuaikan budget yang ada. Jadi, UMB Pusat yang menyediakan infrastrukturnya, sistem informasi riset dan kebutuhan lainnya, termasuk pembiayaannya. Walaupun tidak besar, tetapi cukup lumayan,” kata Tin Budi Utami.

Objek riset melibatkan fakultas-fakultas yang ada di UMB. Di antaranya, ada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Akutansi,  Fakultas Arsitektur Mesin dan Teknik Industri, Fakultas Komunikasi, Fakultas Psikologi, Fakultas Teknik, Fakultas Komunikasi dan Komputer, hingga Program Pasca Sarjana.

“Jadi, riset yang dilakukan tergantung bidang ilmu di masing-masing fakultas,” tambahnya.

Untuk kategori riset yang dilakukan dosen muda, ada tiga skema. Misalnya, riset yang dilakukan di dalam negeri, maka harus kerja sama baik dengan perguruan tinggi lain maupun perusahaan atau industri. Sedangkan riset yang dilakukan di luar negeri, bekerjasama dengan perguruan tinggi lain, industri atau dengan NGO.

“Kalau riset di luar negeri, biasanya dosen itu harus bergelar doktor. Dalam negeri, dosen bergelar doktor juga bisa, biasanya dosen bergelar S2 yang belum punya kepangkatan lektor ke atas, yang disebut dosen muda,” jelasnya.

Materi riset bisa dilakukan di bidang apapun, misalnya tentang maritim, teknologi ramah lingkungan, ilmu ekonomi kreatif, manajemen bisnis, dan teknologi ilmu komputer. Biasanya tenggat waktu riset 8 bulan, dimulai dari tahap planning, sosialisasi, pengajuan proposal, tahap laporan, hingga tahap penilaian. Namun, untuk sampai proses penghargaan (penilaian periset terbaik),  waktunya sekitar setahun. Artinya, hasil riset tersebut sudah dipublikasikan dalam bentuk jurnal nasional hingga internasional.

“Jika dosen tidak melakukan riset atau penelitian, akan ada sanksi-sanksi administrasi. Karena, kegiatan ini berkaitan dengan reward dan punishment. Kalau kegiatan dosen hanya mengajar saja, maka akan dievaluasi,” tegasnya.

Hasil riset ada yang langsung bermanfaat untuk masyarakat, tapi bisa juga untuk pengembangan ilmu, termasuk pengembangan bahan materi pengajaran.

“Keluaran riset nanti ada hak paten, jurnal, dan sebagainya. Untuk dosen yang sudah bergelar doktor harapannya sampai ke tahap jurnal bereputasi internasional,” tutup Tin Budi Utami. (Rini)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here